Sunday, May 21, 2006

telepon

halo ini telepon, kamu?

Monday, May 01, 2006

ga selesai

lalu, pernah kami berjalan di sepanjang garis pantai
dia bercerita tentang neneknya yang larut dipersunting laut.

kemudian dia menunjuknunjuk batas cakrawala menyembur jingga
"itu ufuk pernah ditembus perwira yang mati berduka"

itu tuan yang bersuara parau
telah mati.


-deposuit potentes de sede, et exaltavat humiles

Thursday, April 27, 2006

dia 2

dari ranjang, bersama tuan,
aku belajar kehidupan
tentang lekuk lakilaki
dan kanakkanak yang berahi

aku dulu cuma membawa sejumput pikiran
yang bercampur lumpur sawah di desa
tapi lihat, tuan
kini aku punya pikiran saudagar
serba merki serba perhitungan

aku menghitung setiap senti badan ini
dengan rupiah yang mampu kau tutupi

lihat tuan,
aku mampu mengubah laki yang baru tumbuh jakunnya
menjadi manusia paripurna

Tuesday, April 25, 2006

dia 1

mari kuajar kau menyapu wajah
ini dia pupur dan kuasnya

perhatikan gincu di bibir Makmu ini
ulas dua kali sampai merona

tinggal kau tipu mata itu bandot tua

untuk rupiah yang kaukumpul
jangan pernah disimpan

sebab rupiah pula bapakmu pergi

Wednesday, April 19, 2006

kutagih waktu

karena kemana pun kau lari, pasti kau kukejar. karena aku akan berlari bersamamu. mengikutmu bak bayang tubuh sendiri. aku hendak membuatmu terburu-buru. lalu terbirit-birit. aku hendak membuatmu merasa tak enak hati karena telah memisahkan kami. aku akan membuatmu tersengal-sengal berlari dari janji yang kau buat sendiri. waktu, kan kukejar engkau sampai kau kembalikan dia padaku.

tapi aku tak hendak berhitung denganmu.

anakku lahir

selamat datang di dunia nak
ada delapan penjuru angin yang perlu kau kecup

sekarang adalah saatnya

sekarang adalah saatnya kita mabuk seperti anak-anak yang tak pernah kehilangan napas untuk tertawa. sekarang adalah waktunya bermain memanjat pohon yang tinggi dan berpura-pura menjadi kesatria robin yang mengelompok, mencuri upeti dan membagi-bagi kepada mereka yang miskin. sekarang adalah waktunya kita merasa jumawa lalu mencoba busur-busur dan menghentak-hentakkan toya. dan pohon-pohon mendadak menciut begitu ibu memanggilmu untuk mandi

dan sekarang adalah waktunya berlaga seperti kesatria. mengendara kuda dan menjelajah istana. serupa berandal mencumbu putri cantik rupa. mengutuk-ngutuk rahib dan bihara. kau pun membayangkan membopong sang putri yang tengah sekarat dalam hujan yang membara. kau menangisi cinta yang tak pernah dimengerti kaum tua. dan bumi berubah menjadi tempat lapang tempat kau harus menggembala saat bapakmu memanggil "tole kambingmu belum minum".

dan sekarang pun berlalu, menanyakan kepadamu "tahukah kamu angin, dingin, dan hujan tak pernah bertanya kepadamu,'kapan kau beranjak dewasa?'"

Boxers

Ada satu kali dia ingin kembali naik ring
Katanya uang hasilnya lumayan untuk membeli pistol mainan untuk buyung
Dan boneka cantik untuk si upik
Tapi bunyi bel berubah menjadi neraka
Dan si buyung hari ini menolak ke sekolah, karena satu kampung memperolok ayahnya yang tumbang di ring.

“dunia hari ini mengubur sebuah keluarga.”

Interlude

Bukan saya yang nyanyi itu hari.

Friday, April 07, 2006

mantra pemusnah duka

kadang ia menumpuk luka
di tangan kirinya

"selusin awan
sekodi hujan
sewindu musim"

diremas itu luka
dan dibuang
ke tempat sampah

Monday, April 03, 2006

mati

Kalau aku mati
Aku ingin begitu saja
Tanpa dupa
Tanpa duka

Tanpa bunga kamboja
Dan keranda

Kalau aku mati
aku ingin mendekap sunyi

Sunday, April 02, 2006

broken flower

tak ada ranting yang patah
tak ada daun yang jatuh
tak ada bunga yang rapuh

tapi dia tak kunjung mengerti misteri kuncup yang
tergeletak mati dalam kepalanya.

originally on 25 february 2006

Saturday, April 01, 2006

dongeng

ini kali tak ada dongeng untukmu, nak
minumlah susumu
tidurlah lekaslekas
ibu mesti merayapi malam
esok, kau akan jadi lelaki

bangunlah, nak. bangun
kita adalah mimpi yang akan pudar


originally on 10 march 2006

eskrim

minumlah seteguk eskrimku
eskrimku adalah eskrim keabadian
yang lahir dari gerobak berusia 20 tahun
kaleng termos dan as roda yang berkarat

minumlah seteguk eskrimku
saljunya berasal dari tanganku yang renta
yang harihari ini gemetar saat memarut balok es
dan meramunya dengan susu dan santan

anak, cuma engkau yang membuatku abadi

Monday, March 27, 2006

ah, kami tidak marah dengan apa yang menimpa kami
kami tak hendak membunuh mereka yang berbeda dengan kami, yang kata orang adalah musuh kami

ah, kami tak hendak menuntut kasur mereka yang berpegas
kami tak hendak memakai baju mereka yang berparfum dan pas di badan

ah, kami juga tak hendak membuat revolusi sosial dan mendengar segala omongan sampah dari bangku kuliah
kami tak hendak berfilsafat dalam hidup, karena kami begitu sibuk dengan kehidupan yang hendak kami peras habishabis kenikmatannya.

ah, kami tak hendak mengsosongkan kantong mereka yang beruntung
mereka sama tak berdosanya dengan kami. dan bukan salah mereka, bila mereka dilahirkan lebih beruntung dari kami

ah, kalau kami lebih suka diri kami sendiri, itu bukan berarti kami sombong
kami cuma lelah berpurapura, minder, dan lebih memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kami.

...

penabuh duka
penari luka
genderang petaka

Friday, March 24, 2006

mereka yang minta suaka

kami membawa matamata yang menyala merah
kaki berdebu dan perut telanjang yang kelaparan
dari lembah yang penuh darah

kami berlindung dari langit yang membara
dan rumputan yang melepuhkan kaki

tuan tolong kami.

lembah kami bukan lagi lembah keabadian
lembah kami adalah lembah kematian

mereka yang minta suaka

kami membawa matamata yang menyala merah
kaki berdebu dan perut telanjang yang kelaparan

kami mengutuk langit di desa kami yang berdarahdarah
anjing dan babi yang merantai kaki

tuan tolong kami.

lembah kami bukan lagi lembah keabadian
lembah kami adalah lembah kematian

Thursday, March 23, 2006

tadi pagi

tadi pagi tingkap jendela mengadu pada hujan yang turun
dia bilang embun tak lagi mau bergegas di kacakacanya

sepasang mata berkaca entah kenapa

randu dan jati yang kaku merintih
pada hujan september yang jatuh di maret

sepasang mata menutup pasrah, entah kenapa.

dia mengeluh kelu

dia mengeluh kelu pada lidahnya

godam pada cerita
pasak pada lidah
gumam pada tutur

pada pasar,
pada pesta,
pada komidi putar,
pada jalanan kota,
pada arena,
pada cerita kemenangan,
pada gelak tawa dan tangis,
pada televisi,
pada gelasgelas yang pecah,


dia sedang mencari cerita yang menelisup entah kemana